JUITA DAN DINDING-DINDING
Matahari pagi lalu berkunjung pada pagi. Tubuh Sang
Juita dibasahi oleh tetes keringat terkapar lemah tak berdaya bagai anak anjing
kehilangan tuannya di sisi jalan kota yang ramai. Menyalak, menatap, mencari di
antara tetes-tetes hujan.
Lebam menjadi goresan kuas tambahan pada wajah
musim seminya. Kulit emasnya menjadi merah oleh dentuman jari-jemari adam. Tubuhnya
bagai bulir padi yang ditopang batang muda lalu diterpa angin yang hebat. Adam
menikamti karya seni yang begitu nyata dan menunjukkan kekuasaannya pada kerapuhan karya itu.
Sang Juita merangkak dan bersandar pada dinding.
Ia menatap dinding-dinding itu dan berkata, “Apakah aku begitu menarik untuk
ditonton?” Dinding-dinding kamar itu hanya terdiam dan asik sendiri. “Aku
bertanya, apakah aku begitu menarik untuk ditonton?” Dinding-dinding itu hanya terdiam dan tetap
asik sendiri. Sang Juita menaikan suaranya lebih keras, “Heiiiii kalian, apakah
kalian tuli? Aku sedang
bertanya!” Dinding-dinding itu bergeming dan tetap asik sendiri. Hanya satu
dinding yang melirik sedikit, mencari asal suara, melihat tapi berpura-pura
tidak melihat kemudian asik lagi dengan dirinya sendiri.
Sang Juita berusaha berdiri menopang raganya
yang enggan bergerak. Ia menuju cermin yang digantung pada salah satu dinding.
Dari sudut bibirnya, tampak beberapa tetes darah. Ia mengambil secarik tisu dan
mengeringkan darah itu.
Sang Juita lalu beradu pandang dengan dinding
dibelakang cermin itu yang sedari tadi memandangi dirinya dengan tatapan malas.
”Apakah aku terlihat parah?” Dinding itu membuang mukanya dengan acuh tak acuh
lalu mulai asik dengan dirinya lagi. ”Baru saja beberapa detik kau menatapku,
bagimana mungkin sekarang kau mengacuhku?” tanya Sang Juita. Dinding itu
melirik sedikit dengan malas lalu asik lagi dengan dirinya. ”Dasar bangsat, kalian latar yang kejam” Ia
lalu menangis. Dinding-dinding itu tetap asik sendiri dan tak mengacuhkan
dirinya.
Waktu terus berjalan, setiap detik telah menghapus
lebam pada wajah musim semi Sang Juita. Bibirnya kembali merekah, tetes-tetes darah pada bibir itu hilang bagai
kemarau berganti hujan. Raga indahnya kembali mekar. Sedangkan dinding-dinding
masih pada tempatnya, diam, dan asik sendiri.
Selama
lebam itu ada pada wajah musim semi Sang Juita, Adam tak menampakan dirinya.
Hingga warna bibir yang dihiasi merah darah itu berganti dengan bibir merah
merekah, Adam tetap tak menampak dirinya. Bau tubuhnya bahkan tak tercium oleh
dinding-dinding sampai kemarau berganti hujan.
Puluhan musim yang lalu, saat bunga november
bermekaran, saat kota panas ini dihiasi pohon-pohon berbunga merah, di depan
dinding-dinding, dengan lantang Sang Adam berkata,
”Aku Adam, memilih engkau Sang Juita, menjadi hawa. aku berjanji untuk mengabdikan
diri kepadamu dalam untung maupun malang, diwaktu sehat dan sakit. Aku mau
mengasihi dan menghormati engkau sang juita sepanjang hidupku.
Pada musim-musim berikutnya, kecupan
dan dentuman silih berganti. Kenikmatan dan kesakitan bagai bulan dan matahari,
saling berganti peran. Pujian dan caci laksana gelap dan terang, selalu datang dengan kepastian. Dan dinding-dinding
mengambil peran tokoh tambahan, yaitu
penonton. Tanpa kata, hanya sorot
matanya yang membalas setiap percakapan
dua tokoh utama. Oleh Sang Juita, sorot mata itu berarti acuh tak acuh
dan kepura-puraan.
Kadang Sang Juita merasa dinding-dinding itu memasang telinga dan matanya, tetapi tak
sekalipun ia memergoki mereka untuk memastikan hal itu, dimatanya ia selalu
mendapatkan mereka asik dengan diri mereka sendiri.
Hari ini, saat gelap menggelayut di atas langit,
saat matahari mengestafetkan tugasnya pada bulan, adam pulang. Angin semilir bertiup berbisik pada
daun-daun, mengumumkan kehadiran Adam.
Bau badan Adam yang ditiup angin menggerakan tirai-tirai lalu menyusup masuk
memenuhi ruangan, menyentuh dinding-dinding. Bau khas itu menyeruak dan dengan
malas dinding-dinding membuka matanya
dan tertidur lagi dalam kepak-kepak sayap gelap. Hanya suara lirih kenikmatan yang
terdengar semakin jauh seiring dengan mata para dinding yang terkatup oleh
kantuk yang dasyat.
Jeritan pilu berganti suara isak tangis membuyarkan
mimpi para dinding yang sedari tadi masih terlelap. Salah satu dinding melirik
pada jam yang digantung pada dinding lainnya dan dengan kesal memelototkan
matanya pada Sang Juita yang bersandar padanya. Dinding-dinding lain ikut
terbangun dan mengocok-ngocok matanya. Pandangan pertama yang terlihat adalah
wajah musim semi yang kembali dikuasi dengan warna lebam. Kali ini pandangannya
sedikit berubah dan menyita sedikit perhatian para dinding, darah tidak lagi
datang dari sudut bibirnya tetapi dari dahinya, rambut hitam mengkilap yang
biasa tertata dengan rapi tergeletak secara acak dilantai. Ia pasti telah dibotaki
dan dipukul dengan sesuatu di kepalanya. Para dinding kelihatan kecewa telah
ketinggalan adegan klimaks yang pastinya menegangkan.
Dalam kepiluan suara tangis itu, samar-samar
terdengar suara bergetar, ”Apakah menarik yang kalian saksikan?”
dinding-dinding itu tiba-tiba tersadar dan berpura-pura akan tertidur lagi.
”KALI INI AKU MINTA KALIAN JANGAN BERPURA-PURA TIDAK MELIHAT!!!” teriak sang
juita dengan tatapan marah, terluka, dan sedih. ”APAKAH YANG KALIAN LIHAT TIDAK
MENARIK?” Dinding-dinding itu bergeming namun tetap memandang dengan penuh
tanda tanya. ”Pasti kalian diam-diam menertawakan aku, menertawakan dialog dan
adegan kehidupanku” dinding-dinding itu masih menatap dengan penuh tanda tanya.
”Baru saja jam dinding itu berputar dari tempatnya, adegan dan dialogku berubah
dan berubah lagi, temanya selalu berganti, alur yang diberikan padaku selalu
dengan plot yang padat dan cepat, hanya latar bodoh seperti kalian yang tetap
sama!” ”Kami bukan latar yang bodoh!!” jawab salah satu dinding dengan kesal. Sang Juita tampak terkejut, ia mencari asal
suara, lama ia melihat ke sana kemari lalu memastikan suara itu memang berasal
dari dinding. Sungguh di luar dugaannya. Tak pernah sekalipun ia berpikir bahwa dinding-dinding itu bicara, ia tahu
bahwa dinding itu memang melihat tetapi mereka selalu asik sendiri. Ia hanya
asal bicara tanpa berharap mereka membalasnya. Ia bicara, bertanya, dan
berteriak pada mereka sebab hanya mereka yang ada disitu.
Setelah beberapa detik Sang Juita mampu membenahi
keterkejutannya. ”Lalu siapa kalian,
dalam adegan-adegan ini?” tanya Sang Juita. ”Tokoh tambahan” jawab dinding yang
disandarinya. Sang juita menoleh pada dinding yang dipunggunginya, ”Tokoh
tambahan?, tokoh tambahan seperti apa?” ”Penonton....” jawab si dinding dengan raut
muka tanya sambil mengangkat kedua tangan dan bahunya. ”Penonton!!!??” hardik
sang juita dengan marah, ”Siapa yang menyuruh kalian untuk menonton?”
”Kau” jawab mereka hampir bersamaan.
”Aku?”
”Kami berada pada tempat dimana kau menempatkan
kami” jawab dinding yang dipunggungi lemari.
”Mengapa kau tempatkan kami disini? Bukankah agar kami menyaksikan setiap
drama yang kau lakoni dan menyimpan setiap rahasia lakonan itu dari semua
mahluk di luar dinding ini?”
”Lalu mengapa kalian hanya diam saat aku menjerit, bertanya, kesakitan, dan
pilu?, dimana kalian?” tanya juita dengan tajam diantara kesakitannya.
”Apakah kau memberi kami peluang untuk berkomentar”
Lama terdiam, sunyi, suara detik jarum jam tampak
terang dalam hening kegelapan pagi yang
pekat. Bulan masih berada pada tempatnya menggegam tongkat estafet dengan
nyaman.
”Kalau begitu lupakan itu, jawab pertanyaanku sekarang, aku tampak seperti
apa?” tanya juita dengan lembut.
”Seperti wanita” jawab dinding yang digantungi tirai.
”Seperti musim semi, sejuk” jawab dinding yang disandari jam dinding.
”Seperti boneka cantik yang kotor dengan lebam” jawab dinding yang
dipunggungi lemari.
”Aku rasa kau seperti pelacur” jawab dinding yang disandarinya itu dengan
pelan tapi terang.
”APA MAKSUDMU PELACUR HAHHHH?????? Aku ini wanita bersuami, aku gadis suci sebelum
menikah, aku tidak pernah bergelayut pada laki-laki lain, bahkan hatiku bersih
dari pria manapun.”
Hening lama, suara jarum detik itu kembali terang.
”Maksudkuuuu........., maaaa maksudku,” ucapan si dinding terputus. ”Apa maksudmu?”
”Maksudku seperti kata dinding yang diruangan TV itu, ia sering menonton
wanita-wanita sepertimu.
”Wanita sepertiku? Memangnya wanita seperti apa aku??!!”
Dinding itu tampak ragu-ragu. Tetapi mata sang juita dan dinding lainnya
menatap padanya managih jawaban.
”Wanita musim semi, indah seperti bulir padi, lembut bagai bulan, kuat
laksana mentari tetapi bodoh bagai pahatan yang membiarkan dirinya tetap nyaman
ketika dilemparkan ke dalam api”
Hening, hening, lama..
tidak ada satupun pertanyaan atas pernyataan itu. Suara detik jarum jam bahkan
tidak terdengar. Bulan masih pada tempatnya, nyaman dengan tongkat estafet dalam
pelukannya. Sang Juita menatap sang
bulan, ia menatap daun-daun di balik tirai yang sedikit terbuka, ia menatap
dirinya lalu mendongakkan kepalannya pada dinding, tetapi dinding-dinding itu
kembali diam dan asik lagi dengan dirinya sendiri.
Butuh ketelitian untuk mencermati isi cerpen karena ada banyak bahasa bermajasbya.,����������������
BalasHapus